Monday, September 4, 2017

Belajar Kayu di Hutan Mikata-Gun



© Sigit Ashar



Mendaki gunung, lewati lembah

Sungai mengalir indah ke samudra

Bersama teman berpetualang

- opening song Ninja Hattori produksi Indonesia-





18 Mei 2017, pada penghujung musim semi, berada pada masa peralihan ke musim panas, udara di sini sudah mulai menghangat. Berangkat dari daerah Toyo-Oka, kami menyusuri daerah hutan konservasi Mikata-gun di perfektur Hyogo. Stasiun Yoka pukul 8 pagi, sinar matahari pagi sudah mulai beranjak dari ufuk timur menyinari setiap sudut stasiun kecil yang jauh dari hiruk pikuk “keributan” kota. Disambut nostalgia dengan bangunan kecil stasiun Yoka  bermaterialkan kayu, terbersit kenangan de-javu kecil bangunan-bangunan lama yang mulai terlupakan di masa kecil, atau kenangan kecil dari ingatan film anime dari negeri seberang ini. Petualangan kita hari ini akan dimulai dari sini. 


© Sigit Ashar


Stasiun Yoka sebagai check-point pertama perjalanan hari ini berada tepat di kaki dataran tinggi hutan Mikata-Gun, disambung oleh bus lokal daerah tersebut, perjalanan ini akan mejadi jalan yang panjang, secara fisik dan mental kami telah bersiap untuk melakukan perjalanan ini. Melihat dari hasil observasi kami sebelum melakukan perjalanan ini, medan kali ini merupakan objek yang secara aksesibiltas adalah yang paling berat. Bus telah siap membawa kami  beranjak dari tempat tersebut. Pemandangan kaki gunung dan pedesaan menghiasi perjalanan kita, jalan berkelok dengan lebar jalan yang hanya cukup untuk melintas 2 bus, sesekali kami melihat sebuah pedesaan kecil di bawah gunung, namun hamparan luas lahan pertanian dan perkebunan mendominasi indra penglihatan kami selama perjalanan ini.  

Kode dari supir bus memberikan tanda kepada kami bahwa bus telah sampai di pemberhentiaan bus yang paling dekat menuju ke objek tujuan. Sebuah halte kecil terlihat seperti sebuah gubug menjadi penanda pemberhentian bus tersebut, gubug itulah check-point ­kedua kami. Hamparan sawah dan hutan berada tepat di depan kita, di sanalah kita akan berjalan. Perjalanan mendaki menurut aplikasi Google Maps menempuh jarak sekitar 3,3 km memakan waktu kurang lebih 58 menit, namun entah karena medan yang berat atau beban kita terlalu berat, perjalanan tersebut kami tempuh kurang lebih hampir dua jam dari check-point kedua menuju objek di kawasan hutan Mitaga-Kun.


Kawasan hutan Mikata-Gun merupakan area konservasi alam perfektur Hyogo, artinya semua hewan dan pohon di wilayah tersebut masuk dalam lindungan pemerintah. Rimbunan pohon memayungi perjalanan kita mendaki dari check-point kedua kami menuju ke objek tujuan, walaupun secara alamiah hutan di sini tidak dapat dibandingkan dengan keindahan hutan di Indonesia namun kebersihan dan kerapian serta keteraturan sangat patut untuk dipresiasi lebih,mungkin hal tersebut sudah menjadi kelumrahan warga di Negara ini. Bagaimana perawatan hutan yang sangat terjaga serta kebersihan objek konservasi ini sangat baik. Kami sesekali berhenti untuk menenggak air minum sejenak sembari melihat alam sekitar, sangat terlihat bagaimana sangat rapi dan teraturnya hutan tersebut, sehingga masih sangat terjaga kealamiahannya, sesuatu yang patut dijadikan preseden yang baik. 




© Sigit Ashar

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00, kami berjalan semakin mendekati objek tujuan, rasa penasaran dan lelah yang telah sangat terasa mebuat kami semakin tidak sabar untuk sampai di objek tujuan. Apakah objek tersebut sepadan dengan perjalanan panjang yang sudah kami tempuh ini? Apakah objek ini mampu menjawab rasa penasaran kami? Apakah di sana ada tempat berjualan makanan dan minuman? (Karena kondisi saat itu persediaan cemilan dan minum sudah sangat terbatas), mungkin itulah sebagian rasa penasaran kami terhadap objek tersebut.

Tepat pukul 12.00 akhirnya kami memasuki kawasan objek tujuan kami, “Wow..! ada UFO mendarat di tengah hutan”, itulah kesan pertama saat memasuki kawasan Museum of Wood di hutan Mikata-gun, perfektur Hyogo, mengomentari sebuah bangunan raksasa dengan bentuk bulat yang mencuat di tengah rimbun pepohonan. Apa yang dipikirkan sang maestro dalam mendesain museum tersebut di tengah hutan yang sangat susah untuk diakses. 


© Sigit Ashar

Museum of Wood karya sang maestro arsitek Jepang Tadao Ando dapat dikatakan adalah sebuah antithesis dari semua karya-karyanya yang terkenal oleh beton Ando-nya, museum of wood menggunakan material kayu sesuai dengan peruntukan bangunan tersebut yaitu sebuah bangunan museum untuk seni kayu. Karya tersebut menjadi sebuah statement dari Mr. Ando bahwa beliau mampu untuk bereksperimen menggunakan material kayu di dalam karyanya. Museum ini dibuka pada tahun 1994 didekasikan sebagai persembahan untuk perayaan hari kayu yang ke-45 untuk mengingat hutan yang hancur selama perang dunia kedua, sehingga wajar apabila sang Arsitek memberanikan diri bereksperimen menggunakan material “baru” tersebut. Komitmen terhadap konteks digariskan secara tegas terhadap pengambilan axis sebagai acuan desain bangunan, bahkan kita dapat merasakan keberadaan axis tersebut secara gamblang di lokasi.


© Sigit Ashar

Lay-out bangunan sederhana berbentuk bulat dengan diameter 45 meter dan sebuah core inner court dengan diameter sekitar 25 meter merupakan gambaran singkat yang mampu menggambarkan bentuk bangunan tersebut. Dipotong garis lurus tegas direpresentasikan oleh sebuah koridor penghubung bangunan utama yang memotong sama besar bangunan di tengah menuju sebuah area observatorium di ujung koridornya sebagai area gardu pandang, kita di ajak untuk melihat, merasakan hutan di kawasan sekitar bangunan tersebut berdiri. Sebuah kombinasi dan tranformasi bentuk geometris sederhana yang dieksekusi secara apik, sehingga tersajikan sebuah bentuk jujur dari sebuah karya desain arsitektural.

Ditampilkan secara gigantis seperti sebuah tempat pemujaan di tempat terpencil, bangunan ini memberikan efek kejut langsung terhadap pengamatnya, menjadi landmark untuk kawasan di sekitarnya, teringat sebuah desain karya dari Tadao Ando yang lain di kawasan pulau Naoshima, dimana beliau membangun sebuah komplek kawasan seni dengan dibangun banyak museum di pulau terpencil yang diharapkan menjadi motor penggerak wisata pulau tersebut. Apakah pendekatan yang sama dilakukan di dalam konsep desain bangunan Museum of Wood? Menjadi penggerak destinasi kawasan tersebut? mungkin dapat ditelaah lebih dalam lagi.



© Sigit Ashar


Disambut senyum ramah dari sang receptionist, kami mulai memasuki gallery Museum of Wood, pertunjukan lain disuguhkan oleh Mr. Ando di dalam bangunannya. Kolom-kolom kayu raksasa menjulang tinggi menyentuh langit-langit transparan menyuguhkan semburat sinar matahari menerangi karya-karya seni kayu di bawahnya. Sederetan karya seni dan beberapa ruang exhibition dan riset mengenai perkayuan dinanungi oleh kolom-kolom raksasa tersebut.  Kolom-kolom raksasa penegas betapa terdepannya Mr. Ando dalam eksplorasi material kayu untuk bangunan ini, tiang yang disusun dari susunan bilah-bilah kayu merepresentasikan begitu rapihnya dan teraturnya pertukangan di sana. Bentuk yang merepresentasikan sambungan struktur kayu tradisional diolah secara apik dengan teknologi yang modern.

Tidak susah kami untuk mengeksplorasi setiap ruang-ruang di gallery tersebut, dengan bentuk lay-out sederhana tidak butuh waktu lebih dari satu jam kami sudah dapat melihat setiap ruang dalam bangunan tersebut. Berbagai macam seni kerajinan kayu dipamerkan di gallery tersebut, dari seni craft yang bersifat handy hingga seni kayu berbentuk bangunan disajikan di dalam gallery tersebut, dari seni kayu dari kawasan daerah tersebut hingga seni kayu dari manca negara disajikan di dalamnya dan tentu salah satu yang menarik adalah ditampilkannya model maket rumah Gadang dari Sumatera Barat turut dipamerkan. Terlihat bagaimana masyarakat Jepang sangat menghargai setiap karya seni perkayuan dari manapun, baik dari skala kecil hingga skala yang besar.

© Sigit Ashar


Tiba saatnya ketika rasa lapar sudah mulai terasa, kami harus segera turun ke bawah karena tidak adanya tempat untuk mengisi kekosongan perut kami. Jadwal bis yang sangat mengikat juga memaksa kami untuk beranjak dari karya sang maestro. Jalan turun masih panjang dan berliku, kita harus tetap sehat, tetap kuat, karena petualangan kami tidak berhenti sampai di sini.


© Sigit Ashar



Sigit Ashar

Friday, July 28, 2017

dua jam menengok Menara Kapsul




 We used to consider things that could live forever to be beautiful.

But this way of thinking has been exposed as a lie.

True beauty lies in things that die, things that change.
-Kisho Kurokawa

 © Chandra Tri Adiputra



Tokyo, 25 Mei 2017

Sudah pukul 8 malam dan mulai gerimis. Kami masih dalam perjalanan subway dari Stasiun Ryogoku ke Tsukijishijo, untuk bertemu Masato Abe.

Masato-san adalah pemilik salah satu unit kapsul di Nakagin Capsule Tower. Awalnya kami berencana menginap semalam di kapsul miliknya, yang disewakan lewat situs Airbnb dengan tarif ¥15.000 per malam. Lewat chat di app Airbnb, kami sampaikan bahwa kami tertarik untuk berkunjung ke Nakagin, salah satu ikon arsitektur metabolisme yang cukup terkenal. Namun, Masato-san menjelaskan kalau sekarang kami sudah tidak bisa menginap karena ada komplain dari para tetangga. Sebagai gantinya, Masato-san menawarkan untuk memberi kami tur singkat tanpa harus menginap. Kami pun mengiyakan kesempatan langka ini.

Pukul 8.15 kami sampai di Nakagin. Ada dua tower A dan B yang berlantai 13 dan 11 plus 1 lantai basement. Kami diajak masuk melewati lobby, Masato-san memberi salam ke seorang bapak di meja resepsionis, naik lift yang masih berfungsi baik ke lantai 10 tower B, ke kapsul milik Masato-san : B1004.

© Stephanie Monieca

Di dalam kapsul, kami mengambil foto sambil mendengarkan penjelasan dari Masato-san mengenai Nakagin, diawali dengan fakta bahwa Nakagin adalah model pertama dari hotel kapsul yang sekarang menjamur di seluruh Jepang.
Nakagin Capsule Tower selesai dibangun di distrik Ginza pada 1972. Waktu pembangunan cukup singkat, karena setiap kapsul sudah diprefabrikasi di pabrik railroad vehicle di Prefektur Shiga. Masing-masing kapsul diangkat dengan crane dan dipasang ke core bangunan manggunakan 4 buah baut mutu tinggi. Kapsul dibentuk dari truss baja ringan yang dilas, dibungkus dengan panel baja galvanis, dicat anti karat, dan disemprot kenitex (plastik tahan air).
    

© Kisho Kurokawa, architect & associates

Dari kabinet yang penuh mengisi salah satu sisi ruangan dan laci di bawah tempat tidur, Masato-san mengeluarkan setumpuk poster dan buku koleksinya. Semua tentang Nakagin. Mengagumkan. Bukan hanya itu, ia juga menunjukkan berbagai artwork bertema Nakagin : lego, boneka flanel, sulaman cross stitch, dan yang paling cantik : lampu berbentuk maket Nakagin Capsule Tower, yang dulunya diberikan pada penghuni sebagai merchandise.

© Stephanie Monieca

Di poster-poster iklan jadul, terlihat kalau target pengguna kapsul ini adalah 'modern businessman' : para komuter yang bekerja di Tokyo. Kapsul ini didesain sebagai rumah sementara bagi para pekerja agar tidak harus menghabiskan waktu pulang pergi setiap hari. Pada 1970 dipasarkan dengan harga ¥3.400.000 per kapsul dan terjual habis dalam 6 bulan.

© Nakagin Co.

Ukuran setiap kapsul 2.3 (w) x 3.8 (d) x 2.1 (h) meter dengan satu jendela Plexiglass bulat fixed berdiameter 1.3 meter. Dengan luasan kapsul yang luar biasa kecil, setiap senti diperhitungkan untuk bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sangat efisien dan ergonomis, sama sekali tidak ada ruang yang tidak terpakai.
    

© Kisho Kurokawa, architect & associates

Modul-modul kabinet built-in bisa di-custom sesuai kebutuhan pemilik unit kapsul. Kapsul B1004 dilengkapi lemari es, televisi, dan semacam jam digital; sisanya difungsikan sebagai storage. Tapi sebenarnya pemilik bisa memilih kelengkapan lain seperti telepon, radio, stove, dan bahkan reel to reel tape deck yang sangat up-to-date pada zamannya.

© Stephanie Monieca

Salah satu pintu kabinet penyimpanan bisa dilipat ke bawah dan digunakan sebagai meja. Bila sedang tidak digunakan, bisa dilipat kembali ke atas supaya tidak menghabiskan ruang.
    

© Chandra Tri Adiputra

Masato-san lalu menarik keluar laci penyimpanan dari bawah tempat tidur. Dan yang membuat kami 'surprise', pada laci pertama terpasang tali tambang untuk menarik keluar laci kedua yang posisinya lebih dalam. Di dalamnya tersimpan selimut hijau asli yang dulu diberikan Nakagin untuk para pemilik kapsul.

© Stephanie Monieca

Area dapurnya sangat compact. Sink bisa ditutup saat tidak digunakan dan ada lemari es built-in ukuran mini yang masih berfungsi. Ada opsi untuk menambah stove, tapi pemilik sebelumnya tidak mengambil opsi ini. Memasak masakan heboh nampaknya tidak dipandang sebagai bagian lifestyle masa depan.

© Chandra Tri Adiputra

Kamar mandinya sangat kecil (sekitar 1.7 x 1.1 meter, kurang lebih sama dengan kubikel toilet di mall!) tapi sangat ergonomis, materialnya washable plastic yang dicetak. Tetap ada bathtub sebagai bagian dari lifestyle orang Jepang.


Keringat kami bercucuran. Di dalam kapsul terasa panas dan pengap. Beberapa kali Masato-san membuka-tutup pintu. Karena jendela tidak bisa dibuka, tidak ada pengudaraan alami. Selain itu, sistem pengudaraan sentral Nakagin Tower sudah tidak bisa difungsikan karena ducting sudah rusak di beberapa tempat dan dikhawatirkan sudah terkontaminasi asbestos. Nakagin masih menggunakan asbestos sebagai insulasi dan fire protection, tepat sebelum pada 1975 asbestos dinyatakan berbahaya bagi kesehatan.

Beberapa kenyataan membuat kami miris. Pada 2007, mayoritas pemilik unit Nakagin memilih untuk meruntuhkan bangunan ini. Ironis. Nakagin yang pada 1972 begitu mengejutkan dunia arsitektur dan meraih berbagai pujian, hingga memproklamirkan nama Kisho Kurokawa sebagai seorang bintang; sekarang telah kehilangan rasa cinta dari publik.

© bdonline.co.uk

Pemanfaatan lahannya dianggap kurang maksimal untuk area Ginza yang memiliki nilai properti sangat tinggi (sekitar ¥30.000.000-40.000.000 per sqm). Bangunan ini juga minim perawatan : kebocoran yang sudah mulai terjadi sejak 1980, pipa-pipa yang berkarat dan bocor tidak bisa diganti baru karena posisinya sulit dijangkau. Aliran air panas sudah dimatikan sejak 2010 karena pipa-pipa yang rusak. Penghuni bisa mandi air panas di kamar mandi komunal di lantai dasar atau memasang pemanas air sendiri.

Oleh Kisho Kurokawa, setiap kapsul direncanakan untuk diganti baru setiap 25 tahun. Namun sayangnya ini tidak berjalan sesuai rencana. Tidak ada lagi perusahaan yang memproduksi kapsul. Selain itu, akan sulit untuk mengganti kapsul yang berada di lantai bawah tanpa terlebih dahulu melepas kapsul-kapsul di lantai atas. Dengan kata lain, kapsul-kapsul ini mungkin baru bisa diganti bila dilakukan secara keseluruhan, tidak bisa satu per satu. Perkiraan dana untuk restorasi adalah sekitar ¥8.000.000 per kapsul atau ¥1.200.000.000 untuk semua kapsul.

Masato-san bercerita, pada tahun ini masih ada sekitar 20 dari total 140 kapsul yang difungsikan sebagai tempat tinggal atau bekerja. Sisanya ada yang difungsikan sebagai gudang atau dibiarkan kosong dan rusak.

 © Ana Luisa Soares and Filipe Magalhães, © John Enos

Masato-san-san bukan seorang arsitek. Semua riset dan koleksinya ia kumpulkan karena jatuh cinta pada bangunan yang terancam diruntuhkan ini. Pada tahun 2014, Masato-san memulai projek Save Nakagin Capsule Tower. Tujuannya adalah mengumpulkan donasi dari seluruh dunia untuk membeli kapsul-kapsul yang tersisa dan merestorasi Nakagin Capsule Tower.

Laman Facebook Save Nakagin Capsule Tower Project


Pukul 10 malam kami keluar dari Nakagin, beramitan dengan Masato-san. Hujan makin deras. Orang-orang berpakaian rapi berjalan cepat menembus hujan dengan payung di tangan. Kami menyeberang jalan ke Stasiun Shimbashi. Menengok ke belakang, Nakagin masih terlihat dari jembatan penyeberangan. Siluetnya yang unik, jendela-jendelanya yang gelap.

Begitu banyak celaan terhadap Kisho Kurokawa dan Nakagin Capsule Tower : kesalahan perencanaan, kegagalan arsitektur, kerugian besar para pemilik kapsul, bahaya tertimpa puing bagi para pengguna jalan. Saat ini, nasib Nakagin masih tidak pasti.

Tapi kami, seperti juga Masato-san, tetap saja kagum pada kejeniusan Kisho Kurokawa. 45 tahun silam, Beliau sudah mampu merealisasikan bangunan yang kelak akan menginspirasi banyak karya lainnya, seperti hunian kapsul dan arsitektur prefabrikasi. Kisho Kurokawa berani untuk berinovasi dan mewujudkan visinya akan arsitektur masa depan. Di masa sekarang, perubahan dan perkembangan terjadi setiap saat, begitu pesat. Siapa yang bisa memperkirakan apa yang mungkin terjadi 20, atau 30, atau 40 tahun mendatang?

Berinovasi dan gagal seperti Kisho Kurokawa mungkin tetap lebih baik daripada diam dan sama sekali tidak berusaha mencari sesuatu yang baru. Sepanjang peradaban, manusia selalu belajar dari kegagalan.

 

Stephanie Monieca



Saturday, July 1, 2017

urban islands budi pradono

Program workshop yang digelar di University of Sydney ini, memberikesempatan bagi saya untuk melakukan investigasi pada pulau cockatoa di Sydney, pulau bersejarah ini merupakan tempat dimana para penjahat di benua eropa dibuang pada abad ke 16.










How to be the designer for Our Contemporary Society

How to be the designer for Our Contemporary Society
By Budi Pradono[1]
Bravacasa Academy 2015, Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, 11July 2015

Latar Belakang
Menjadi desainer adalah sebuah keputusan untuk kembali memikirkan kehidupan manusia dengan lebih detail lagi. Desainer dituntut untuk memahami dengan baik kebutuhan-kebutuhan dasar lifestyle seseorang. Selain dia juga harus punya cara berpikir yang out of the box tetapi juga memiliki gagasan-gagasan ide yang sangat personal, salah satu metodenya adalah memahami fenomena-fenomena kekinian baik soal ekonomi politik maupun budaya suatu masyarakat pada jamannya.
Pada beberapa bulan ini saya banyak sekali mengikuti event bidang seni dan desain yang berlangsung di berbagai negara. Profesi arsitek bagi saya merupakan profesi yang unik , karena bisa meletakkan dasar konsep suatu kawasan atau bangunan lalu mengatur berbagai hal-hal teknis tetapi juga mengatur hal-hal estetik seperti dirigent di dalam permainan satu grup musik. Setiap bangunan (arsitektur) ketika sudah selesai dibangun, perlu di isi interiornya di sinilah saat yang paling asik sekaligus menegangkan karena saya bisa memilih material yang keras atau lunak, produk import atau lokal dan seterusnya. Kadang ini juga menjadi sangat complicated sehingga diperlukan sebuah metode untuk mengeksekusinya.
Saya merasa, saat ini penting sekali untuk berbagi, mengingat beberapa kegiatan yang saya ikuti maupun aktivitas saya di bidang desain dimulai dari Milan ketika mengikuti Milan Designweek pada bulan April, kemudian di Bulan Juni di Jakarta saya mengikuti pameran di Dia Lo Gue artspace, dan ARTJOG di Jogjakarta, dilanjutkan menjadi kurator pameran kamar mandi tahun 70-an di Schiltach, German, lalu menuju ARTBASEL[2] / Design Miami di kota Basel Switzerland, dilanjutkan ke Dusseldorf, kemudian ke UK di Sachii Gallery, London, dan Royal Academi of Arts di London, dan terakhir mengunjungi  pameran karya Mona Hautum dan Le Corbusiear di Pompidou Centre[3] di Paris.  Saya ingin memberikan catatan sekilas, tidak semua karya bisa dibahas di sini saya mencoba mengambil contoh-contoh yang paling relevan dan patut untuk dijadikan bahan dalam presentasi kali ini.






Mona Hatoum, Hot Spot / Pompidou centre Paris 2015, Photo oleh Budi Pradono 2015
Mona Hatoum[1] mengeksplorasi instalasi dipengaruhi oleh kinetika dan teori fenomenologis, dan instalasi lain yang dapat dikategorikan sebagai pasca-minimalis, menggunakan bahan yang ditemukan di dunia industri (grid dan kawat berduri), sebagian besar karyanya memiliki dimensi politik, yang dijiwai dengan feminisme. Mona Hatoum berhasil menyampaikan pesan-pesan universalnya yang multi interpretasi seperti gambaran dunia yang menyala merah bagaikan bumi yang semakin panas karena perang atau karena benar-benar panas terbakar secara fisik dan politis.







Kader Attia , Arab Spring / Unlimited, Art Basel, Switzerland 2015, Photo oleh Budi Pradono 2015

Kader Attia[1] , Musim Semi di dunia Arab  (2014) adalah instalasi patung yang menampilkan jejak kinerja, selama proses preview Attia berusaha mengulangi kehancuran museum Mesir di Kairo, dengan cara menghancurkan box kaca dengan frame kayu yang diatur di sekitar ruang dengan batu bata. Kaca hancur dan bata merah membentuk karya instalasi akhir pada ArtBasel “Unlimited” Karya ini mengundang beragam interpretasi.

Tomas Saraceno, Orbit / Ständehaus Museum Dusseldorf 2015, Image: photo oleh Budi Pradono 2015
“Orbit”Karya Tomas Saraceno[1] di Ständehaus Museum Dusseldorf : menyerupai lanskap surealis, seperti lautan awan. Orang-orang yang cukup berani dapat memanjat tinggi dan dapat berenang di atas jarring-jaring kawat

Relasi antara seni dan desain
Keduanya sama-sama memiliki elemen estetika, namun seni kontemporer bisa menyentuh jiwa sementara desain harus mampu memberikan aspek fungsi dan inovasi teknologi yang sempurna demi kemajuan kehidupan manusia. Jika ini digabungkan antara jiwa dan raga dan jika ada keseimbangan itu niscaya sebuah karya pasti dapat menggetarkan jiwa rohani kita sekaligus mempermudah kehidupan kita. Para seniman papan atas umumnya mampu menyampaikan pesan-pesan individu, mereka mampu memberikan pengalaman rohani bagi penikmat museum dan Gallery atau masyarakat pada umumnya  
Menjadi desainer pada abad 21 adalah sebuah keputusan untuk kembali memikirkan kehidupan manusia dengan lebih detail lagi. Desainer dituntut untuk memahami dengan baik kebutuhan-kebutuhan dasar lifestyle seseorang. Selain dia juga harus punya cara berpikir yang out of the box tetapi juga memiliki gagasan-gagasan ide yang sangat personal, salah satu metodenya adalah memahami fenomena-fenomena kekinian baik soal ekonomi politik maupun budaya suatu masyarakat pada jamannya.

Fenomena  masyarakat Kontemporer
Seorang desainer dituntut juga mengikuti perkembangan yang menakjubkan tentang gaya hidup instan masyarakat perkotaan, melumernya batas-batas teritori dan geografis karena teknologi digital serta munculnya kesadaran-kesadaran baru di masyarakat kontemporer hari ini. Masyarakat kontemporer memunculkan indikasi-indikasi terbaru yang tak terduga dengan mengambil akar-akar kultural yang terfagmentatif (lokal) sekaligus universal dengan kecenderungan-kecenderungan maupun fenomena-fenomena di bawah ini:
Hadirnya Net Gen
Net Gen atau generasi yang sangat bergantung pada internet. Generasi ini adalah generasi yang sangat percaya diri, dan menjadikan gadget sebagai device untuk mengetahui segala sesuatu. Hal ini menyebabkan mereka jadi sumber berita, sebagai publisher atas informasi yang mereka dapatkan. Generasi ini relative memiliki apresiasi desain yang baik, tidak mudah termakan isu, jadi arsitek / designer dituntut untuk mengetahui selera baru para Net Gen ini. Adapun ciri-ciri Net Gen adalah memiliki smartphone, sangat mengikuti tren terkini, termasuk memanfaatkan teknologi e-money dan online shopping. Generasi ini juga menuntut akses internet yang cepat dan di setiap tempat menggunakan wifi. Mereka mengandalkan digital assistant, dengan digital map[1] maupun dictionary.

Di India, pengguna telepon selular bahkan melebihi jumlah keluarga-keluarga yang mempunyai toilet. Gadget, di India menjadi ”sakral”,  bahkan mereka  lebih mementingkan handphone ketimbang tingkat higienitas dengan menelantarkan dan tidak membangun kamar mandi privat dan keluarga. Demam gadget juga memanipulasi orang-orang untuk cenderung menjadi asosial dalam interaksi di keluarga inti, yang dalam sisi lain menunjukkan keterikatan yang mendalam akan ketergantungan pada teknologi.

Mobility
Dengan mobilitas yang semakin baik dan canggih ternyata memberi dampak pada urbanisasi[2], percepatan urbanisasi maupun penyusutan penduduk di desa-desa. Urbanisasi perpindahan penduduk dari desa ke kota ini juga mempengaruhi kondisi kota, di Negara-negara barat yang maju umumnya menciptakan kota yang kompak dengan menciptakan perkantoran maupun hunian secara vertical hal ini didukung dengan system transportasi publik yang baik. System transportasi yang baik ini juga didukung oleh peraturan tata kota yang terintegrasi dengan rasio taman yang memadai. Jika kita bandingkan di Negara-negara barat satu bangunan besar berisi puluhan atau ratusan keluarga dengan taman –taman yang besar sementara di Jakarta lahan dibagi kecil-kecil untuk bangunan perumahan kecil-kecil dengan garasi yang besar, karena setiap keluarga memiliki lebih dari satu mobil. Para generasi muda di Eropa banyak sekali yang memiliki sepeda dan mereka mengandalkan transportasi publik untuk pergi ke mana-mana. Bisa dibayangkan urbanisasi yang pesat di kota kota besar di Indonesia diikuti oleh kekacauan bangunan, urban sprawl dan kemacetan kota. Kota di Jakarta telah melebar dan memakan semua taman maupun ruang-ruang terbuka hijau[3].
Adventure
Dengan adanya mobility dan teknologi komunikasi yang maju menyebabkan orang semakin besar memiliki kuriositas sehingga memicu orang untuk mencari  hal-hal yang baru yang belum 
pernah dikunjungi, explorasi pada remoted area dan antar lintas pulau dan benua menjadi sesuatu yang sangat menantang bagi masyarakat. Desain desain untuk area-area terpencil seperti di Afrika Maldives, maupun pulau-pulau lain di NTT, Papua dan lain-lain semakin terpencil semakin seksi
Industri-industri layanan jasa turisme menawarkan tempat-tempat yang paling aneh dan unik, yang dulunya tak pernah terpikirkan bisa dijual. Pulau-pulau yang paling terasing, perjalanan spiritual-ziarah mengikuti para pelaku spiritual ratusan tahun lalu ke tembok ratapan di Israel sampai vilala-villa di gunung kemukus, pendakian gunung-gunung berbahaya (gunung vulkanik yang aktif) yang membuat adrenalin terpacu, sampai resor-resor aneh dengan satwa-satwa dilingungi di pedalaman hutan dan pantai-pantai yang tak terjamah, liar makin sering dikunjungi manusia.
Globalization
Globalisasi merupakan gabungan antara mobility dan kecanggihan teknologi dunia menjadi borderless. Dengan globalisasi terjadi penyeragaman, dalam dunia arsitektur dikenal dengan international style yang mengandalkan industry baja, beton dan kaca sehingga menyulap kota-kota di dunia menjadi mirip…. Hal ini juga memicu terjadinya perhatian pada lokalitas karena setiap tempat disadari perlu sekali adanya identitas, banyak arsitek maupun designer yang mencoba menggali kekuatan local, genious locy.
Globalisasi produk, terutama bisa dideteksi dengan gejala “kolonialisasi” model baru, dengan berpindahnya infrastruktur pembuatan industri raksasa karena pertimbangan harga tenaga kerja, komponen-kompenonen dan alat inti yang harganya murah sampai penetrasi pada pasar-pasar potensial di Asia. Perpindahan kawasan kawasan industri di Negara-negara Eropa ke Negara-negara Asia, menyebabkan kota-kota industri di Eropa menjadi mati suri, pada duapuluh tahun terakhir ini banyak sekali kawasan industri yang mulai kosong dikonversikan menjadi bangunan-bangunan kebudayaan baik itu museum maupun galleri-galleri, contoh paling fenomenal adalah Kota Bilbao yang kembali hidup dan dikunjungi orang dari seluruh dunia karena hadirnya Gugenheim[1] museum karya Frank O Gehry. Namun tidak semua tempat yang mati suri tidak dapat dipraktekan dengan strategi yang sama seperti Bilbao, karena setiap tempat memiliki karakteristiknya sendiri. Di sini Para desainer maupun arsitek dituntut untuk berpikir secara innovative untuk menghidupkan kembali desa-desa maupun kota-kota yang mati karena perpindahan masyarakatnya, atau kegiatan ekonominya suatu tempat.
Connectivity
Konektifitas antar manusia di sepenjuru jagad makin erat atau malahan menimbulkan konfik-konflik paling seru. Instagram dan Facebook memulai Arab Spring bergema, para dictator dan fasis di negara-negara Arab tumbang karena revolusi media sosial yang menakjubkan. Demokratisasi memenangkan hati rakyat Arab via media sosial. Dilain pihak, ancaman terorisme politik dan penguasaan aset-aset penting malahan makin leluasa mengemuka. Para pimpinan dan milisi bersenjata menggunakan kampanye perekrutan anggotanya melalui media sosial, sabotase cyber, sementara banyak jaringan keamanan pusat pertahanan negara-negara maju di hack oleh mush-musuh ideologinya. Ancaman paling dahsyat adalah keamanan. Konektifitas memiliki sisi buruknya, dengan diretasnya pusat-pusat kemanan dan stabilitas politik sebuah negara yang berdaulat. Kita masih tidak lupa bagaimana SBY handphone diretas, sementara para politisi tingkat dunia juga harus berhadapan dengan bocornya kecurangan-kecurangan politik mereka lewat Wiikileaks[1].
Keterhubungan antara satu tempat dan tempat lainnya karena konektivitas akan memberikan aspek efisiensi. Ini seperti pengiriman barang dengan adanya infrastruktur yang memadai terjadi percepatan dalam pengiriman barang sehingga menjadi lebih murah. Jadi ada konektifitas atau keterhubungan virtual lewat media sosial[2] tetapi juga ada konektivitas secara fisik. Contohnya Jakarta merupakan disconnected city, karena moda transportasinya belum terhubung secara terintegrasi
Ruang Privat vs Publik
Definisi ruang privat dan ruang publik mulai bergeser. Di Indonesia kegiatan mandi jaman dahulu adalah kegiatan sosial umumnya mengandalkan sumber-sumber air yang baik di bawah pohon besar, maupun sungai-sungai akhirnya sungai merupakan ruang publik, Namun dengan berjalannya waktu ketika setiap keluarga memiliki kamar mandi sendiri hal ini menyebabkan kamar mandi menjadi ruang privat. Pada tahun 80-an dan 90-an umumnya setiap rumah di Indonesia memiliki ruang tamu atau ruang untuk menerima tamu namun saat ini rumah menjadi lebih privat sehingga dalam rancangan terbaru, rata-rata arsitek telah menghilangkan ruang tamu ini, yang tersisa hanyalah ruang living atau ruang keluarga atau ruang kegiatan bersama, umumnya untuk menonton acara televisi. Di sisi lainnya ketika kita berada di ruang privat / ruang pribadi dengan kecangihan teknologi smartphone atau sosial media secara virtual mampu ditembus oleh teman-teman kita. Rumah saat ini umumnya menjadi semakin privat, karena orang cenderung bertemu dengan rekan kerjanya di luar rumah di café misalnya. Hal –hal ini memicu aspek desain, terutama di kota-kota yang baru berkembang kebutuhan akan rancangan rumah yang lebih privat maupun rancangan café-café untuk public yang dilengkapi dengan fasilitas wifi mengkoneksikan ke manusia lain di belhan dunia yang lain.
Gender
Hari ini makin banyak ruang-ruang untuk berekspresi bagi para perempuan dan berakhirnya dominasi adam terhadap hawa. Pimpinan negara Jerman, Angela Merkel, kandidat terkuat presiden AS, Hillary Clinton sampai kolektor terkuat barang seni, dipegang oleh keluarga perempuan kerajaan Qatar. Sementara para aktifis perempuan dan CEO perusahaan-perusahaan raksasa berbunyi sangat nyaring dan mendapatkan tempat di majalah Forbes, Fortune sampai New York Times. Persoalan pemisahan gender telah usai abad ini. Makin banyak ladang kerja para pria “yang telah diserobot” para perempuan, bahkan untuk sopir mobil ambulans/ jenazah, traktor sampai para pendakwah perempuan sangat disegani. Para perempuan  memiliki naluri yang tajam dan multitasking dibanding kepemimpnan para pria. Abad ini memang abad yang telah ada kesetaraan. Kesetaraan Gender ini membuka kesempatan seluas-luasnya bagi desainer wanita untuk berperan aktif, Kita bisa melihat Zaha Hadid arsitek kelahiran Irak yang tinggal di Inggris, rancangan-rancangannya sangat diapresiasi karena karakter individu yang khas, desainnyapun tidak lagi terbatas pada perancangan bangunan (arsitektur) tetapi juga sudah merambah ke dunia fashion seperti perhiasan, tas wanita maupun sepatu. Designer wanita lainnya adalah Patricia Urquila kelahiran Spanyol yang menjadi salah satu desainer of the year dari elle décor.
Kesetaraan gender ini telah menghancurkan batas batas kerja tradisional seperti area dapur dulunya hanya untuk para ibu-ibu, sekarang dapur menjadi juga tempat masak bagi para cowok. Cara memasak dan lifestyle ini akan merubah komposisi dapur dan bahkan dengan meja pantry dengan penambahan tv dan juga alat penyedot asap yang canggih.
Eldery
Penelitian terbaru mengatakan bahwa jumlah lansia( orang berusia tua di atas 60an tahun keatas) pada 2050 akan menciptakan beban di negara-negara dunia ke-3, setelah Eropa dan Amerika telah mengalaminya terlebih dahulu. Dengan jumlah lebih dari 60% dari populasi penduduknya. Yang mengakibatkan angka tenaga kerja  berkurang dan produktifitas ekonomi dan sosial sangat terhambat. Makin banyak mereka yang berusia30-40an tahun menunda usia pernikahan. Dalam dunia desain fenomena pertumbuhan kaum manula ini dijawab dengan adanya penyediaan ruang toilet yang besar agar dapat menampung kursi roda maupun hampir semua tangga di ruang-ruang publik disediakan lift yang dapat mengikuti kemiringan tangga. Atau bahkan setiap diberi rancangan.  Komposisi lanjut usia (elderly) di Negara-negara maju semakin banyak dan melebihi keseimbangan yang diharapkan hal ini menuntut berbagai area publik untuk dapat mengakomodir kehadiran para manula ini dengan menyediakan ramp, tangga yang memiliki escalator, toilet yang besar agar dapat  menampung kursi roda. Sementara angka perceraian semakin tinggi di kota-kota besar menyebabkan banyak single perent yang berusaha mengasuh bayinya masing-masing, hal ini juga menjadi trigger untuk menuntut ruang ruang publik menyediakan nursing table di area kamar mandi.
Back To Nature
Manusia-manusia modern sangat dekat dengan alam. Berupaya untuk meraih kenyamanan pikiran dan hati dengan kesadaran bahwa bumi memiliki energy terbatas dan pada ambang krisis destruksi alam[3], dengan penanda pemanasan global—meningginya permukaan air laut, tidak beraturannya cuaca dan iklim, seringnya terjadi tsunami, banjir dan badai terus-nemerus. Kedekatan dan pemeliharaan terhadap alam menjadi kebutuhan riil, yang berbeda puluhan tahun lampau tatkala masih menjadi wacana. Produk-produk yang ramah lingkungan menjadi pilihan utama dengan seminal mungkin penggunaan plastik misalnya. Dalam dunia desain keterbatasan sumber alam ini dijawab dengan banyaknya desainer yang mengajukan desain yang sustainable yang menggunakan material yang tidak jauh dari site, mampu menghasilkan energy sendiri dan seterusnya.
Komunitas
Manusia-manusia modern cenderung untuk berkelompok sesuai dengan kebutuhan ekspresi mereka sebagai individu-individu yang unik. Dengan kesamaan yang terjadi di kelompoknya mereka membangun hubungan-hubungan berdasarkan benda-benda yang dimiliki, kesamaan profesi, hobi yang sama, minat tertentu, seperti kebugaran tubuh atau keahlian tertentu yang menarik dalam lingungan yang sangat eksklusif. Komunitas-komunitas ini saling terhubung satu dan lainnya tanpa batas-batas geografis, budaya dan ideologi. Mereka menunjukkan pola-pola terbaru cara manusia saling berkomunikasi dan terhubung satu dan lainnya. Saat ini adalah era nya komunitas, sehingga pemahaman budaya menjadi hal yang utama dalam mengembangkan ide desain produk apapun.
Faith versus Materialisme
Sementara itu, ada banyak orang-orang modern menjadi “asketis” atau menghindari materialism, paham tentang pemujaan berlebihan pada benda-benda dan kepemilikan, dan ini menjadi trend yang besar dan sangat fenomenal. Ditilik dari munculnya fundamentalisme kepercayaan yang mengkristal, bahwa konseumerisme tidak baik, dengan mengalihkan perhatian pada sisi ruhaniah, dengan minimalisasi barang yang dimiliki. Para CEO, selebriti atau para pesohor, banyak sekali menyukai trend untuk mengasingkan diri, menikmati  liburan bersama keluarga inti dan menjauhi  kemewahan dan popularitas. Trend ini, sebaliknya memicu kebencian yang memuncak pada sebagian orang modern dengan memakai religi dan keyakinan buta bahwa modernism adalah perilaku amoral.  Munculnya terorisme dalam agama bisa di telisik dari kekecewaan-kekecewaan dan tidak terpenuhinya ruhani manusia karena pemujaan berlebihan pada benda-benda dan popularitas.
Rational versus Intuition
Orang-orang modern semakin hari, semakin menggunakan intuisi. Steve Jobs, mengatakan bahwa ia belajar Zen, menengok ke manajemen gaya Jepang, mulai mengurangi fungsi otak untuk penalaran dengan menggantinya dengan imajinasi. Intuisi banyak muncul dari orang-orang kreatif, yang mampu memimpin masa lebih banyak orang untuk mengikuti kehendak visi hidupnya. Pemimpin dan CEO perusahaan multi nasional mengunakan secara berimbang kemampuan nalar dalam manajemen mereka dan pengambilan keutusan secara intuitif berdasar kepekaan-kepekaan rasa yang dilatih terus-menerus. Semakin banyak para professional menyisihkan waktunya untuk belajar seni, melatih otak kanan mereka, memaksimalkan kecerdasan emosional, dan pada waktu yang sama mempertajam kepekaan spitualnya sekaligus. Para pipinan tertinggi perusahaan laba dunia mulai melihat bahwa laba bukan segalanya, berbagi adalah puncak tertinggi kemanfaatan sebuah perusahaan bagi masyarakatnya sendiri.  
Study Kasus desain / arsitektur
Berikut ini adalah beberapa studi kasus project / desain dan aristektur yang mencerminkan dan menjawab kekinian:


Oki Sato/ Nendo, Pair /Milan Design week, Italy  2015

Budi /Budi Pradono, Algo lamp / Ventura Lambrate /Milan design week 2015


Budi/Budi Pradono, Q Table /dipamerkan pada Saling Silang di Dia Lo Gue artspace, Kemang, Jakarta, Juni 2015

Budi Pradono Architects, Rumah Miring / Pondok Indah 2014


Rediscovering The Joy of designing
Pada masa kini ketika dunia ini saling terhubungkan lewat internet, lewat berbagai media sosial, dengan mobilitas yang semakin cepat, dengan kolaborasi dari berbagai ilmu yang semakin mudah event event pameran tingkat dunia juga hadir di setiap kota-kota budaya di dunia, seperti halnya Bravacasa di tempat ini, maka betapa saat ini adalah saat yang paling menyenangkan untuk mampu menghadirkan desain rancangan terbaru yang mampu menjawab tantangan kekinian masyarakat hypernet, masyarakat kontemporer.
Tell your story and Change the World
Designer masa kini harus bisa menjadi pencerita, ceritakan awal mula ide itu di dapat pada setiap karya yang dihasilkan, pasti karya tersebut akan semakin ,menarik dan seksi ketika kita tahu latar belakangnya. Simpan semua sketsa awal dan susunlah ceritanya.  Tell your story, berarti juga mengkomunikasikan ide dan gagasan, jika belum ada client-nya bisa saja diceritakan pada media online atau bahkan sosial media. Karya-karya kita niscaya akan menggetarkan dunia.
Skill are Cheap Passion is priceless
Setiap orang mampu mempelajari skill yang baru, tetapi tanpa passion skill itu akan rendah hati dan perlahan tapi pasti akan mudah dilupakan, tetapi jika kta memiliki passion, semangat yang tinggi pada apa yang kita kerjakan dengan sepenuh hati ini tidak ternilai harganya.
(Budi Pradono, Paris-Jakarta, Juli 2015)








[1] Wikileaks pertamakali di suarakan oleh snowden untuk membuka…..
[2] Media social..merupakan …
[3] destruksi alamiah yang disebabkan ketidakseimbangan alam…


[1] Gugenheim museum di Bilabo karya Frank O Gehry merupakan….



[1] Digital map adalah….
[2] Urbanisasi….
[3] Menurut …ruang terbuka hijau RTH di Jakarta mengalami penurunan dan perubahan peruntukan karena…


[1] Tomás Saraceno, adalah seorang seniman yang berpendidikan sebagai arsitek, kelahiran Tucuman Argentina, tahun 1973, dia berusaha mendalami wawasan dari rekayasa, fisika, kimia, aeronautika dan ilmu material dalam karyanya. Dia menciptakan biosphere karet dan udara dengan morfologi gelembung sabun, jaring laba-laba, jaringan saraf atau formasi awan, yang model spekulatif cara alternatif hidup.


[1] Kader Attia, seniman kelahiran Perancis tahun 1970,dibesarkan di Aljazair dan pinggiran kota Paris, dan menggunakan pengalaman hidupnya sebagai bagian dari dua budaya sebagai titik awal untuk mengembangkan praktek dinamis yang mencerminkan estetika dan etika yang berbeda budaya. Dia mengambil pendekatan yang puitis dan simbolis untuk menjelajahi dampak luas dari hegemoni budaya Barat dan penjajahan di budaya non-Barat, menyelidiki politik identitas dari era sejarah dan kolonial, serta di dunia yang moderen dan global.

[1] Mona Hatoum Lahir di Beirut pada tahun 1952  dari orang tua keturunan Palestina, saat kunjungan singkat ke London tahun 1975, Mona tidak bisa pulang ke Beirut dan melanjutkan ke sekolah seni di London. Seniman yang telah mengalami pengasingan, pencabutan, keterasingan dari konteks keluarga mereka atau konfrontasi dengan situasi geopolitik yang bermusuhan.
[1] Budi Pradono adalah arsitek, pemikir, seniman dan product designer, Mendirikan studio arsitektur dan urban design Budi Pradono Architects (BPA), melauncing product dengan brand ‘budi’ pada pameran tahunan Milan Designweek 2015, curator Das Bad der 70er Jahre di Schiltach Germany, berkarya dan berpameran di berbagai Negara: New York, London, Tokyo, Hongkong, Milan, Venice dan Bergen Norwegia. Menjadi pengajar tamu di Aedes, Berlin dan Sydney University

[2] Art Basel merupakan pertunjukan seni utama di dunia untuk karya modern dan kontemporer, berlokasi di Basel, Miami Beach, dan Hong Kong. Ditetapkan oleh kota tuan rumah dan wilayah, setiap pertunjukannya sangat unik, yang tercermin dalam galeri yang berpartisipasi, karya-karya seni yang disajikan, dan isi dari pemrograman paralel diproduksi dan bekerja sama dengan lembaga-lembaga lokal untuk setiap edisi. Selain sangat ambisius menampilkan galeri terkemuka dari seluruh dunia, sektor pameran tunggal setiap acara menyoroti perkembangan terbaru dalam seni visual, menawarkan pengunjung ide-ide baru, inspirasi baru dan kontak baru di dunia seni.


[3] Pompidou Centre di Paris adalah…..