Monday, December 31, 2012

Indonesian emerging architecture 1.0. at Galeri Nasional [Budi Pradono Architects]














Tuesday, December 11, 2012

OMA to develop Sydney's Darling Harbour









Dutch architects OMA will work alongside Hassell of Sydney and international firmPopulous to deliver the 20-hectare masterplan, adding the new leisure complex to the north of Pier Street and new residential neighbourhood The Haymarket on the site of the existing Sydney Entertainment Centre and car park.


“This project will redefine Sydney as a global city and create one of the world’s great meeting and entertainment destinations,” commented Destination Sydney’s chief executive Malcolm Macintyre. “Not only will it become a beacon for international visitors for conventions and events but will also build on the appeal of the Darling Harbour area for Sydney-siders creating an entertainment hub that promises to reconnect and re-energise the city.”
A phased redevelopment will see the existing Sydney Convention & Exhibition Centre close in December 2013, while the current Sydney Entertainment Centre will remain open until December 2015. Construction is set to complete in late 2016.

Shan-shui city in guiyang, china by Ma Yansong MAD architects

this is one of our latest projects; located in guiyang. it again has mountains, water, though artificially made, but giving people a feeling of a layered environment. 
it is a new town, a new CBD, with new high-rises, even new twin towers, for the client likes the twin towers in kuala lumpur, so he has to have it.

we think this kind of CBD has nothing to do with humanity, it has no public space for people, without bridges, platforms or waters, without spaces people can see each other and can gather around. my idea is to insert communication spots based on the landscape and weave together these individual parts, architecture and nature in this large-scale mixed-use building. whatever it is, people hesitate to adopt this networking system in the large buildings, they hate large buildings, for they think this kind of buildings are not humane and represent only some authorities, but in terms of sharing, openness and density, the city is the better choice and high-density is unavoidable, 
it is here that my thinking brings us to this idea of the 'shan-shui city'.'  ma yansong


 'it actually is a concept that developed in the early 1990s when china just started the modernization trend, just started to build those boxed buildings I showed. 
at that time there was someone pointing out why not restore the old-town spirit, and put on visually traditional elements into the design, 
as a reaction to that the original idea of 'shan-shui city' came from dr. qian xuesen (a famous chinese scientist from the last century) 
which aroused discussions among the architecture field. the idea is simple actually; it is asking will our city be just like this, like boxes spreading all over? 
will they be another chicago? of course he suggested to learn from cities like hangzhou and beijing. so I think in the future if nature and human can, 
on a spiritual level, go hand in hand…
 
beijing is beautiful not just because of the trees, she has views, like jingshan, beihai; a garden can be culture asset because it embeds spiritual elements in it. 
since we can have small-scaled objects involving emotional elements, from a plant to a city, why cannot the larger-scaled? the dense cites? 
this is the key problem today.'ma yansong
 ref: http://www.designboom.com/architecture/mad-architects-shan-shui-city-guiyang-china/


Tuesday, November 27, 2012

Mendefinisikan kembali Ruang Publik Suatu pengalaman merancang

Mendefinisikan kembali Ruang Publik
Suatu pengalaman merancang1

Budi Pradono2


Ruang publik yang kita butuhkan untuk berbagai kegiatan (bersosialisasi,
berinteraksi, bersantai, dan seterusnya) di sekeliling kita telah mengalami
degradasi jumlah dan kualitasnya. Ruang terbuka publik yang benar-benar
direncanakanpun hampir tidak ada dalam agenda pemerintah. Saat ini yang kita
saksikan di sekitar kita adalah ruang-ruang publik yang tidak terencana atau
bahkan ruang sisa dan bahkan diintervensi oleh berbagai kepentingan.
Pedestrian dengan lebar yang tidak lebih dari tiga meter-pun telah dipenuhi oleh
pedagang kaki lima, taman-taman kota yang sengsara karena tidak terawat di
tambahi pagar oleh pemerintah. Ruang publik di dalam bangunan juga tidak
sedikit yang dapat berfungsi dengan baik. Ruang-ruang negative ini sudah sering
dilontarkan dan di kritik oleh para arsitek, budayawan, perencana kota maupun
masyarakat umum. Penulis tidak ingin mengulangi atau menambah daftar
panjang kekurangan ruang publik kota-kota kita lagi. Tetapi sebaliknya sebagai
praktisi penulis ingin mengungkapkan beberapa usaha, pergulatan dalam desain
yang berhubungan dengan pembaharuan ruang-ruang publik melalui berbagai
rancangan.
Globalisai dan pengaruhnya pada ruang publik
Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi penulis ingin mendefinisikan
kembali dengan cara pandang yang berbeda terutama jika kita mengacu pada
penanggalan baru AG (AfterGates)3. Saat ini kita bisa melakukan browsing ke


seluruh dunia hanya dengan duduk di depan layar laptop sambil minum kopi.
Kita telah memasuki era masyarakat informasi dan komunikasi(information &
communication society). Lalu apa kaitannya dengan arsitektur (lingkungan
binaan) atau bahkan ruang publik atau ruang privat? Persepsi privacy pada
sebelum tahun 1985 (BG) sangat berbeda dengan AG masa kini. Kamar mandi
yang dulunya privat bisa ditembus oleh sms atau handphone. Sambil mandi kita
bisa menerima telpon dan ber-sms. Ruang-ruang domestik telah berubah. Toilet
jaman dahulu berada jauh dari rumah, sekarang menjadi bagian dari kamar
pribadi kita. Ruang dapur yang berada di belakang rumah saat ini menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari living room.
Pergeseran perubahan yang terjadi dalam ruang-ruang privat kita juga
terjadi pada ruang publik kita. Alun-alun atau lapangan yang tadinya sebagai
ruang publik bagi masyarakat telah berubah fungsi menjadi hotel, supermarket
maupun bangunan lainnya yang secara ekonomi lebih menguntungkan.
Globalisasi ekonomi telah mempercepat perubahan-perubahan ruang publik kita.
Menurut Saskia Sassen4 dia menulis bahwa ‘one of the under-appreciated
features of globalization is that its realities are never the same everywhere: some
places and cities experience its effects at accelerated speeds, in comparable
ways.
Pembangunan ruko(rumah toko) yang tidak terkendali atau bahkan mall
yang gigantik dan menawarkan ruang publik baru yang semu karena atriumatrium
di mall-mall tersebut bukan benar-benar milik publik tapi korporasikorporasi
kapitalis. Manuel De Landa pernah menegaskan bahwa lapangan-lapangan yang 
mengeras (hardened terrain) sebagai ‘urban exoskeleton5 yang
mengatur banyak benda-benda yang membentuk ‘urban life’ seperti makanan,
barang mewah (luxury goods) dan juga informasi.
Yang patut dicermati adalah kemunculan mal-mal atau pusat perbelanjaan
raksasa dijadikan indikasi keberhasilan sebuah daerah atau kota. Tema ruang
publik dan gaya hidup masyarakat urban yang dijadikan tema sentral seminar ini
merupakan kesempatan bagi arsitek praktisi untuk membela diri atau bahkan
menunjukan dedikasinya dalam merancang bangunan dan responnya pada
ruang publik kota.
Berikut ini beberapa catatan dari pengalaman merancang yang
bersinggungan langsung dengan proses terbentuknya ruang-ruang publik
berdasarkan pengalaman penulis pada studio BPA;

Konservasi bangunan lama versus Dysneyfikasi ruang kota
Proyek: Braga Lounge & Gateway pada Braga Citywalk, Bandung
2005-2006

Braga Citywalk adalah bagian dari gegap gempita demam city walk, plaza, mall,
dan sejenisnya yang dibangun di mana saja di kota-kota di Indonesia ada yang
menyebutnya gejala hadirnya pink Architecture6, atau saya lebih suka
menyebutnya dysneyfikasi ruang kota, yaitu pencitraan bangunan warna-warni
menyerupai surga bermain anak (dysneyland)
Bangunan ruko lama ini ternyata telah diintervensi oleh bangunan baru yang
tidak elegan. Intervensi yang cenderung merusak ini menunjukkan bahwa antara
apresiasi kultural dan historis tidak sejalan dengan kepentingan ekonomi.
Bangunan baru yang lebih buruk rupa inipun kemudian tidak laku untuk dijual /
disewakan. Intervensi kapitalisme yang brutal ternyata tidak mendapat respon
yang posiitf dari pasar yang mulai sensitif. Akhirnya kita mengajukan proposal
desain dengan tema: “menyelamatkan dari yang tersisa”; Facade depan dan samping, 
lalu interior yang tinggal setengahnya mau diapakan? Jika kita menghancurkan dari 
yang tersisa ini tentulah kita memiliki beban moral yang
besar mengingat bangunan ini dirancang oleh arsitek Belanda pada awal abad
19, dan juga sudah terlidungi olah undang-undang cagar budaya. Obat dari kita
adalah menyuntikkan program baru yang tepat supaya dapat menghidupkan
kembali kawasan ini. Seperti urban akupunkture. Jika strategi progresive
conservation ini berhasil, setidaknya menjadi lilin yang menghidupkan lilin-lilin
lain sepanjang jalan Braga.
Bangunan ruko lama ini ternyata masih menyisakan atap lama, dengan
frame kayu jati di bagian depan dengan lampu-lampu bergaya artdeco. Ruko
tersebut merupakan tempat pertama kali mobil mercedes-benz di impor ke
Indonesia dan didistribusikan pada beberapa kota lain di Indonesia. Artikulasi
arsitektur dengan intervensi seminimal mungkin dilakukan hanya dengan
menempatkan kaca (sandblasted) di atas atap lama. Sehingga layer kedua ini
telah memberikan baju baru dan semangat baru. Kaca tersebut telah
menyelimuti bangunan dan menjadi secondary skin bagi ruko lama ini. Kaca
sandblasted yang netral kemudian diberi pencahayaan dari bawah akan
memberikan semangat muda. Secara arsitektural permainan warna cahaya di
malam hari dibuat thematik sejalan dengan even even penting di jalan Braga.
Program fungsional yang disuntikkan ke dalam Braga Lounge ini mengacu
pada berbagai diversitas program sepanjang Jalan Braga. Sehingga Braga
Lounge ini difungsikan sebagai tempat istirahat untuk mengatasi Fatigue
(kelelahan) sepanjang jalan. Jadi cafenya merupakan tempat bersantai seperti
mengembalikan suasana Parijs-van-Java tahun 1930-an.  

Kepulauan organik, strategi menghadirkan vitalitas baru pada kawasan
kota
Proyek: Living in Archipelago; Via Apenini Public Housing, Milan Italia, 2005
Perancangan kawasan perumahan ini dimulai dengan analisi ruang-ruang publik
di sekitarnya terutama pada sisi utara (Gallaratese area) maupun sisi selatan
(Via Consolini atau Via Bola) pada sisi selatan yang cenderung formal,
informalitas yang kita dapatkan di dalam site merupakan jejalur jalan pintas yang
dilalui oleh pejalan kaki. Penggambaran ulang dari beberapa jalur baik pejalan
kaki, pengendara sepeda, maupun pergerakan anak kecil menghasilkan
beberapa parcel tanah yang kemudian kita definisikan kembali menjadi
bangunan dengan fasilitas open space yang infiormal Salah satu pulau dijadikan
tempat untuk amphitheater.

IMAGES
Living in Archipelago, Via apenini apartment, Milan , Sumber: Dokumentasi proyek Budi
Pradono Architects

Ruang publik dalam arsitektur lipatan (folding architecture) dan distribusi
programming
Pada proyek monumen 100 tahun London Sumatra, Medan 2006-


IMAGES


Monumen 100 tahun London Sumatra, Medan, Sumber: dokumentasi Budi Pradono
Architects

Rancangan sebuah monumen peringatan 100 tahun perusahaan
perkebunan di Sumatera ini idenya diangkat dari beberapa grafik, baik grafik
sejarah penemunya Harison & Crosfield, grafik perkembangan kemajuan usaha,
grafik negosiasi cultural dan grafik exploitasi alam. Meskipun grafik tersebut
formulanya didapat dari beberapa garis di dalam site (garis anti pattern penataan
kelapa sawit, garis-garis alamiah setempat dan seterusnya) yang disuperimposisikan
ke dalam site. Lipatan-lipatan yang kemudian muncul
digabungkan dengan beberapa program yang disebarkan ke seluruh monumen.
Sehingga menghasilkan ruang-ruang publik dengan kualitas yang bermacammacam.
Monumen ini diharapkan juga menjadi edukatorium bagi kawasan
botanical garden di Sei Merah, Medan tersebut. Transformasi program dan
diagram menjadikan arsitektur menawarkan berbagai pengalaman ruang yang
spesifik pada akhirnya bangunan ini tidak sekedar hanya sebagai tugu
peringatan tetapi sebagai alat (device) bagi pemberdayaan masyarakat
setempat. Ruang publik yang didesain untuk mampu menampung berbagai
kegiatan edukasi petualangan (adventure education), pendidikan lingkungan
(environment education).

Ruang Publik sebagai hasil konfigurasi ruang-ruang artistik
Pada proyek: [500m3] Artistic space Labyrinth, art district Gaobeidian GBD,
(phase 1) Beijing, 2007
Pada Perencanaan art district ini kami mengajukan usulan ruang dengan
volume 500m3 terdiri atas dua ruang saja yaitu domestic space / ruang domestik
(yaitu ruang di mana seorang seniman dapat melakukan kegiatan yang bersifat
domestik seperti mandi, makan, tidur, belajar/ menulis) dan artistic space /ruang
artistik (yaitu ruang di mana seorang seniman dapat melakukan kegiatan
berkarya / bengkel / workshop dan sekaligus ruang pameran karyanya / gallery).
Setiap seniman tentunya memiliki dimensi dan ukurannya sendiri-sendiri namun
begitu dengan membayangkan ruang secara tiga dimensi tentunya penempatan
ruang-ruang domestik ini dapat ditempatkan pada ketinggian yang berbedabeda.
Sisa ruang domestik ini menjadi area workshop dan gallery dengan skala
yang bermacam-macam dengan kualitas ruang yang berbeda-beda bergantung dari cara menempatkan ruang domestik tersebut. Dengan total luas area
sebesar…..m2 tentunya sekumpulan bangunan bervolume 500 m3 ini bisa
saling berhubungan satu dan lainnya. Persinggungan antara ruang-ruang artistic
menghasilkan ruang publik. Konfigurasi bangunan ini memberikan keleluasaan
bagi masyarakat maupun para seniman yang tinggal di sana dengan
memanfaatkan roof garden sebagai bagian dari ruang publik yang baru.



[500m3] Sumber: dokumentasi Budi Pradono Architects





Ruang publik dari gubahan bentuk informal sebagai respon pada urban
fabric
Pada proyek Czech National Library, Prague, Czech Republic, 2006
Czech National Library 2006, Sumber: dokumentasi Budi Pradono Architects
Perancangan Bangunan Perpustakaan ini pada intinya ingin merebut
kembali ruang-ruang publik yang semu yang berada di dalam pertokoan maupun
mengumpulkan kembali masyarakat yang tidak hanya membutuhkan informasi
tetapi kehausan akan kebutuhan entertainment / hiburan. Budaya
mendokumentasikan buku di Negara ini sungguh luar biasa bangunan setinggi
25 lantai ini tidak hanya mampu menampung 10 juta buku tetapi juga
laboratorium untuk mengelola dengan serius dokumen-dokumen tertulis selama 
ratusan tahun. Pendekatan desainnya didasarkan atas beberapa orientasi
penting seperti cathedral, taman kota, dan lapangan sepak bola di seberang
jalan. Beberapa garis di dalam site ditransformasikan menjadi empat kepulauan
yang membentuk ruang publiknya sendiri. Sementara tiga lantai di atas
kepulauan ini juga menjadi area publik, tempat di mana berbagai lapisan
masyarakat mendapatkan pelayanan memperoleh informasi.

Penutup
Dari beberapa uraian di atas yang di dukung oleh media komunikasi digital yang
lain; (film dan grafis) dapat ditarik kesimpulan bahwa dedikasi para arstitek untuk
merespon perubahan kualitas ruang publik kita harus dimulai dari diri kita
masing-masing, kreatifitas merancang adalah senjata agar rancanganrancangan
yang dihasilkan mampu menjawab tantangan jaman. Globalisasi tidak
bisa kita hentikan tapi proses adaptasi dan negoisasi desain di setiap tempat
tentunya berbeda-beda bergantung dari konteks sebuah tempat.



1 Disampaikan dalam Seminar Lustrum IX IMA-G ITB, Sabtu, 28 April 2007.
2 Budi Pradono adalah principal architect pada PT.Budi Pradono Architects (BPA) di Jakarta,
konsultan arsitek yang berbasis pada riset, termasuk 57arsitek Asia terinovatif dalam buku Young
Asian Architects, DAAB, Stutgart Jerman, 2006.
3 Tahun 1985 adalah titik awal di mana Bill Gates mendirikan Microsoft di Seattle dan
meluncurkan sistem pengoperasian windows. Pada tahun 1989(5AG) Berners Lee
mengembangkan hypertext mark up language (html) yang menjadi dasar halaman Web dunia dan kode yang digunakan oleh jutaan orang untuk saling berkomunikasi. Pada tahun 1998
(14AG) e-commerce menjadi warganegara yang sah dari perekonomian dunia. Tahun tahun
setelah itu relasi antar manusia melampaui batas-batas teritorial suatu negara. Era kemajuan
teknologi yang menjadi dasar bagi kemajuan komunikasi telah mendekatkan kita dengan orang
lain pada belahan dunia yang lain seperti yang dikemukakan oleh Kenichi Ohmae dalam The
Next Global Stage: Challenge and opportunities in Our borderless World, Wharton School
Publishing, New Jersey 2005
4 Saskia Sassen, The Global City: New York, London, Tokyo (Princeton University Press, 2nd
edition, 2001)


5 Baca: Manuel De Landa, A Thousand Years of Nonlinear History (Zone Books, 1997), p. 18.
6 Suryono Herlambang melontarkan istilah Pink Architecture sebagai karya arsitektur yang
immature yang merujuk pada arsitektur pusat perbelanjaan. Baca Pink Architecture Sketsa,
majalah Arsitektur Tarumanagara, edisi 23.07

Roku museum karya Hiroshi Nakamura+NAP















Tama University Library by Toyo Ito