Thursday, November 20, 2014

Museum Batik Indonesia - desain proposal karya BPA 2014



Keberadaan Batik di Indonesia sangat kaya akan nilai-nilai historis yang berkaitan dengan Kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan setelahnya yang dapat menggambarkan kejayaan peradaban masa lalu di Nusantara. Oleh karena itu di tapak ini dibangun suatu tempat sebagai sarana untuk “mengenal lebih jauh dan mendalam mengenai kekayaan budaya Batik Nusantara” 
Pembangunan Museum Batik ini akan bersimbiosis dengan keberadaan museum-museum lain pada kompleks di Taman Mini Indonesia ini sehingga mendukung terciptanya lingkungan yang ter-edukasi untuk pengembangan kebudayaan yang dinamis, mengikuti jamannya menyinambungkan antara past-present-future.

Filosofi dan Esensi Batik Pada Museum
Desain museum secara keseluruhan merujuk pada filosofi dan esensi pokok Batik yang terdiri dari empat pokok, yaitu:
Perkembangan batik dari masa ke masa menjadi inspirasi dalam mendesain alur perjalanan pengunjung di dalam bangunan.

Lilin, Sang Perintang
Esensi Batik yang menggunakan lilin sebagai perintang warna diterapkan juga pada pengolahan finishing fasad yaitu menggunakan coating untuk merintangi oksidasi tembaga.


18:3
Perbandingan panjang : lebar kain panjang yang diterapkan sebagai ukuran layer-layer perforated metal

Ornamen utama, pengisi, dan isen pada Batik






Kain Sebagai Media Utama
Batik tidak bisa dilepaskan dari kain sebagai media utamanya yang sudah berlangsung dari jaman dahulu dan terus bertahan hingga sekarang. Keberadaan kain yang bersifat dinamis dan fleksibel ini diterapkan pada keseluruhan bangunan sehingga menjadikan Museum Batik ini bersifat dinamis dan fleksibel ditengah-tengah lingkungan yang bersifat geometris. Penerapan kain sebagai media utama ini turut mempengaruhi tata bentuk museum, yaitu:

Prosesi Past-Present-Future
Prosesi pengunjung dari satu ruang ke ruang lain diilhami dari perjalanan sejarah Batik di indonesia. Prosesi tersebut terdiri dari antara lain:
Trade-Pelayaran. Batik pertama kali dibawa ke Indonesia melalui jalur pelayaran perdagangan yang digambarkan pada prosesi entrance utama.


Kerajaan Hindu-Budha. Pada masa ini, Batik sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai religiusitas dan ke-Tuhan-an yang tergambar pada area Lobby yang bersuasana sakral.

Lobby Utama, penuh kesakralan
Pengaruh Asing. Dalam perkembangannya, Batik mulai mendapat pengaruh asing, terutama dari daratan Cina dan Belanda. Pada saat ini pola-pola Batik yang baru mulai diperkenalkan secara lebih bebas karena campuran dari berbagai kebudayaan. Pada fase inilah kemunculan para maestro batik asing yang turut membawa pengaruh budaya bangsa diapresiasi di dalam Ruang Pameran Karya Maestro. 

Ruang Karya Maestro

Industrialisasi. Seiring dengan berjalannya waktu dan teknologi, Batik turut mendapat pengaruh dengan diperkenalkannya teknologi Batik cap yang memungkinkan produksi Batik terjadi secara lebih massal. Hal ini yang menjadi cerminan dari Ruang Pameran Karya Industri.
Ruang Karya Industri



Masa Depresi. Menjelang Kemerdekaan, Indonesia mengalami pergumulan dimana terjadi berbagai perang di berbagai daerah, sehingga menyebabkan banyak pabrik-pabrik Batik yang ditutup dan menyebabkan para seniman batik menghilang. Masa inilah yang merupakan masa-masa depresi bagi perkembangan Batik di Indonesia yang digambarkan pada Lorong Depresi sebagai transisi antara Ruang Pameran Karya Industri dan ruang pameran selanjutnya.
Lorong Depresi

Kemerdekaan Indonesia. Batik kembali berjaya pada masa paska kemerdekaan, saat Ir.Soekarno menjadikan Batik sebagai simbol pemersatu Bangsa. Beliau lah penggagas agar Batik yang telah ada dirumuskan menjadi Batik Indonesia. Saat inilah Batik kembali populer. Ini dilambangkan dengan Ruang Pamer Utama yang berisi berbagai karya Batik dari seluruh penjuru Nusantara. Ruang Pamer Utama merupakan bentuk relaksasi setelah masa-masa depresi yang sebelumnya dialami Batik Indonesia. Kesan lapang, tinggi serta luas, coba ditonjolkan pada kualitas ruang ini.

Ruang Pamer Utama

Era Modern. Berkembangnya pengetahuan dan teknologi turut membawa Batik ke era baru, dimana Batik kini tidak hanya sebatas diatas Kain, namun juga turut mempengaruhi gadget, otomotif, arsitektur, tekstil, dan lain-lain. Bahkan Batik yang dulu digambar manual, kini dapat didesain dengan rumus matematika, yang disebut Batik Fraktal. Semua perkembangan ini kemudian tergambar pada Ruang Pameran Kontemporer.

Ruang Pamer Temporer
 

Barcode
Penataan ruang-ruang dengan menggunakan metode seperti barcode yang tegak lurus dari aksis Tugu Api Pancasila. Penggunaan metode barcode bertujuan untuk menjadi pengikat dan penguat antara massa-massa ruang dengan struktur perforated metal.

Full of void
Ruang-ruang pameran didesain dengan skala dan ketinggian ruang yang berbeda-beda untuk menciptakan kualitas ruang yang berbeda-beda

Full of continuity
Membuat berbagai akses dari luar bangunan museum, yang ditarik dari berbagai aksis dari museum sekitar tapak yaitu aksis-aksis dari Museum Pusaka, Museum Serangga, dan Museum Keprajuritan sehingga terjadi path yang saling berhubungan.



No comments:

Post a Comment